Muamalat Center Consulting

Antara Al-Syathibi dan Maslow

Al-Syathibi bernama lengkap Abu Ishaq bin Musa bin Muammad al-Lakhmi al-Gharnathi al-Syathibi. Lahir pada tahun 730 H/ 1328 M di Gharnathah dan wafat pada tahun 790 H/1388 M di tempat kelahirannya, Gharnathah. Kata “al-Syathibi” dinisbatkan kepada daerah asal keluarganya, Syathibah (Xatiba atau Jativa) yang terletak di kawasan Spanyol bagian timur. Muhammad Rasyid Ridho (1282 H – 1354 H) juga pernah berkomentar tentang sosok al-Syathibi, “beliau seorang mujtahid, cakap dan piawai, mengungguli para imam dan ulama di masanya, ia belajar dengan para imam agung dalam berbagai bidang ilmu, sangat andal dalam penelitian, memiliki banyak karya tulis dalam tafsir, fikih, tasawuf, dan sebagainya.”

Imam al-Syathibi sangat dikenal dengan konsep maqashid al-syari’ah. Beliau menyebutkan bahwa kemaslahatan dan keperluan manusia di dunia ini diwujudkan dalam lima hal, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelima variabel keperluan tersebut harus dilindungi dengan sebaik-baiknya, guna tercapainya kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Mengenal Maslow
Beliau bernama lengkap Abraham Harold Maslow (AH Maslow), lahir pada 1 April 1908 di Brooklyn, New York Amerika Serikat dan wafat pada 8 Juni 1970 di California. Maslow adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang lahir dari imigran Yahudi Rusia. Ia adalah seorang psikolog terkenal. Menyelesaikan PhD dari Universitas Wisconsin pada tahun 1934.

Maslow dikenal dengan konsep hirarki keperluan. Beliau memandang bahwa keperluan manusia diatur dalam suatu seri tingkatan dan hirarki menurut pentingnya masing-masing keperluan. Setelah keperluan-keperluan pada tingkatan lebih rendah terpenuhi, maka muncullah keperluan-keperluan pada tingkat berikut yang lebih tinggi dan menuntut pemuasan. Konsep pemikiran AH Maslom menyampaikan tentang lima hirarki keperluan, yaitu keperluan fisiologikal, keamanan, sosial, penghargaan dan keperluan untuk merealisasikan diri.

Keperluan Menurut al-Syathibi dan Maslow
Konsep keperluan menurut Imam al-Syathibi ada lima, pertama, keperluan terhadap agama (al-din). Setiap muslim niscaya membutuhkan agama sebagai pedoman hidup. Tanpa agama manusia akan hidup tanpa aturan, yang berdampak kepada rusaknya kehidupan. Melindungi agama berarti memelihara iman, Islam dan ihsan dalam kehidupan. Melindungi agama juga berarti mencegah segala perbuatan yang dapat merusak iman, Islam dan ihsan. Seperti melindungi agama dari segala perilaku kesyirikan, ajaran-ajaran sesat, gerakan sekulerisme, liberalisme, orientalisme, kristenisasi dan zionisme.

Kedua, keperluan terhadap jiwa (al-nafs). Melindungi jiwa berarti menjamin akan keberlangsungan hidupnya melalui pemenuhan keperluan sandang, pangan dan papan. Pemenuhan keperluan tersebut menjadi wajib, dalam rangka mengoptimalkan ibadahnya kepada Allah Swt, karena Allah Swt berfirman, “tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyyat: 56). Melindungi jiwa juga berarti meningkatkan nilai-nilai maknawiyah (spritual), memerhatikan kebersihan hatinya, agar senantiasa hidup bersama prinsip dan nilai-nilai Islam. Melindungi jiwa juga bermakna mencegah segala perbuatan yang dapat merusak jiwa, seperti dilarang membunuh jiwa, mencederainya, melukainya, memfitnahnya, menzaliminya, dan lain sebagainya.

Ketiga, keperluan terhadap akal. Setiap manusia niscaya membutuhkan kebaikan akalnya. Agama dan akal merupakan pembeda antara manusia dan hewan. Melindungi akal berarti memeliharanya melalui kegiatan belajar dan mengajar segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia dan agamanya. Akal akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang mulia yang produknya berupa konsep, teori, hukum dan kebijakan. Ide-ide cerdas sangat dibutuhkan manusia dalam rangka memerankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. Melindungi akal juga berarti mencegah segala bentuk perilaku yang dapat merusak fitrah akal, seperti meminum khamar dan sejenisnya yang memabukkan lagi dapat merusak akal manusia, menuntut ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat bagi jiwa dan agama manusia.

Keempat, keperluan terhadap keturunan. Islam sangat memperhatikan keperluan akan keturunan, agar bertahannya peradaban manusia di muka bumi, yang akan mewarisi tugas memakmurkan bumi. Memelihara keturunan berarti melahirkan generasi-generasi shaleh yang diwali dengan pernikahan yang sah antara pria dan wanita. Rasulullah Saw sangat bangga dengan banyaknya keturunan. Memelihara keturunan juga berarti mencegah segala bentuk perilaku yang dapat merusak lahirnya keturunan dan generasi yang tangguh. Seperti perilaku zina, aborsi, gerakan LGBT.

Kelima, keperluan terhadap harta. Melindungi harta melalui transaksi muamalah yang dibenarkan, seperti jual-beli, sewa menyewa, distribusi harta kepada zakat, infak, sedekah dan wakaf. Melindungi harta juga berarti mencegah segala perbuatan yang dapat merusak dan menghilangkan harta, seperti pencurian, penipuan, perampasan harta orang lain, menahan harta benda dari kewajiban zakat.

Adapun AH Maslow mengemukakan piramida hirarki keperluan manusia yang diawali oleh keperluan fisiologi seperti sandang, pangan, papan. Keperluan pada tingkat berikutnya adalah keperluan akan keamanan, misalnya proteksi terhadap bahaya fisikal. Keperluan tingkat selanjutnya adalah keperluan sosial, bahwa manusia ingin berasosiasi dengan pihak lain, ingin diterima oleh rekan-rekannya, ingin berbagi dan berkawan. Keperluan selanjutnya adalah keperluan akan penghargaan, seperti keperluan untuk mencapai kepercayaan diri, prestasi, kompetensi, pengetahuan, reputasi, apresiasi. Keperluan selanjutnya merupakan tingkat kebutuan yang paling tinggi dalam piramidanya, yaitu keperluan untuk mengaktualisasi diri.

Perbedaan Mendasar
Hal yang sangat mendasar dan nyata bahwa AH Maslow tidak menjadikan keperluan akan agama sebagai suatu keperluan bagi manusia! Sementara imam al-Syathibi menjadikan keperluan akan agama sebagai keperluan pertama yang dibutuhkan manusia guna mencapai keseimbangan hidup! Ketika AH Maslow tidak bersandar kepada agama dan Tuhan dalam konsepnya, maka visi, misi, karakter, target dan tujuan dari piramida keperluannya menjadi samar dan rancu. Di saat AH Maslow mengabaikan agama dan Tuhan, maka piramida keperluannya jauh dari ukuran-ukuran fitrah manusia sesungguhnya, dan sebaliknya ia akan didasari oleh akal dan hawa nafsu manusia yang relatif bebas. Akhirnya masyarakat beragama sulit merealisasikannya.

Konsep keperluan al-Syathibi diawali dengan agama, menunjukkan bahwa segala keperluan dan keinginan manusia jelas visi dan tujuannya. Menyatu bersama fitrah manusia, kesannya komprehensif dan integratif. Karena sesungguhnya yang Maha Mengerti akan keperluan kita adalah yang Maha Menciptakan makhluk. Al-Syathibi yang hidup lima abad lebih awal dari Maslow telah mengungguli konsep keperluan dalam bermanajemen.***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *