Muamalat Center Consulting

Islam dan Manajemen

Pembahasan tentang manajemen bukan hal baru dalam Islam. Kita tidak memerlukan hukum baru tentang bagaimana bermanajemen berdasarkan syariat. Karena referensi dan rujukan tentang hal itu dengan mudah ditemukan di dalam nash al-Quran, as Sunnah dan kehidupan para pelopor sukes terdahulu hingga sekarang. Sederhananya, bahwa dimana ada sistem pengelolaan hidup manusia agar menjadi lebih baik, maka disitu ada manajemen. Manajamen lahir untuk mengharmonisasikan antara harapan dan realita manusia. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak memiliki harapan dan berhadapan langsung dengan fakta yang ada.

Allah Swt telah menyempurnakan syariat-Nya kepada manusia, agar manusia berfikir lalu bekerja dengan kesadaran penuh terhadap syariat-Nya tersebut. Diantara produk hukum Islam adalah fikih. Ia merupakan refleksi dari manajemen, agar seorang muslim mampu mengoperasikan ibadah secara benar sehingga dapat meraih tujuannya dalam beribadah. Mazhab-mazhab fikih yang dikenal sesungguhnya manifestasi dari konsekuensi fikih. Realita perbedaan dalam fikih hakikatnya memperkaya referensi dan cara kelola, agar mudah diimplementasikan dalam berbagai kondisi. Kaedah-kaedahnya senantiasa menjawab kemutakhiran sumber daya manajemen dan operasi manajemen yang ada saat ini, sehingga menjadikan manajemen Islam itu humanis, moderat dan universal.

Intisari dari pekerjaan seorang manajer modern saat ini, seperti fungsi, peranan dan keahlian telah ditemukan implementasinya dalam sejarah kehidupan para nabi dan rasul yang mulia. Orang-orang shaleh terdahulu telah mempraktikkan fungsi manajemen, peranan manajemen dan keahlian manajemen. Nabi Adam as adalah manusia pertama di bumi, kisah hidupnya merekam banyak aktivitas manajemen, hingga nabi terakhir Rasulullah Saw juga kaya dengan nilai-nilai manajerial. Ternyata usia manajemen sejalan dengan peradaban manusia pertama di bumi. Sebab isu manajemen adalah tentang desain perilaku manusia dalam mencapai tujuan dan sasarannya.

Para pakar manajemen juga sepakat bahwa benar manajemen sudah dipraktikkan sejak lama, namun dalam karya pena mereka masih belum mampu menunjukkan contoh praktik tersebut jika dimulai sejak kehidupan manusia pertama di bumi. Misalnya perilaku manajemen nabi Adam as, Nuh as, Yunus as, Yusuf as, Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Muhammad Saw. Contoh yang biasa mereka munculkan untuk menunjukkan manajemen itu sudah ada sejak lama, seperti tahap perkembangan ilmu manajemen sebelum Masehi, tegaknya bangunanbangunan Piramida di Mesir, karya Sun Tzu “The Art of War” tentang strategi militer lalu kemudian digunakan untuk keperluan manajemen. Padahal, kesuksesan manajemen orang-orang shaleh terdahulu titik fokusnya melekat pada pembentukan bangunan manusia yang utuh. Utuh dari sisi akidahnya, ibadahnya dan akhlaknya. Melalui proses pembentukan manusia utuh ini, terlahir dari mereka keluarankeluaran yang super dan istimewa, mampu memberikan kedamaian kepada peradaban dunia.

Sejak lebih dari 14 abad silam, Islam telah memerintahkan umatnya untuk ber-Islam secara kâffah (utuh). Maka diantara karakter ajaran Islam adalah komprehensif dan integral, dimana manajemen juga bagian dari perhatiannya. Manajemen merupakan ilmu dan seni mengelola menuju sasaran. Segala perintah agar beriman dan beramal shaleh, baik yang dilakukan oleh individu ataupun kolektif (organisasi) tidak mungkin terlaksana secara efektif, jika lalai dari desain manajemen yang terbaik. Maknanya, berbuat baik sekalipun wajib dengan penataan menajemen yang rapi. Apabila tidak rapi, maka yang bersangkutan sedang bermaksiat kepada Allah Swt! Karena dalam beramal shaleh, sekedar niat saja belum cukup, harus diikuti kesesuaian amal dengan kesalehan yang berlaku serta bersungguh-sungguh.

Kaedah fikihpun menyebutkan bahwa hukum ‘wasilah’ berdasarkan niat dan tujuannya. Jika niat dan tujuan seseorang adalah peningkatan mutu dan kualitas produk, maka harus diikuti dengan wasilah-wasilah yang menghantarkannya kepada peningkatan mutu dan kualitas produk. Jika wasilah yang diusahakan tidak menunjukkan kepada kualitas, hakikatnya ia tidak sedang memiliki tujuan tersebut. Sama halnya, apabila seorang berzina namun diniatkan untuk ibadah, mencuri harta yang memang haram untuk diambil namun diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, membunuh jiwa manusia yang haram untuk dibunuh namun niatnya untuk menambah keimanan. Itu semua contoh konyol dan Allah akan menghukum berdasarkan kelakuan buruk yang dilakukannya. Oleh karena itu, manajemen Islam mendidik kita untuk jujur dalam niat dan perbuatan.

Mengapa seorang muslim tidak mengambil pelajaran manajemen dari syariat shalat, puasa, zakat dan haji? Di dalam manajemen shalat berjemaah misalnya, terdapat nyata praktik tentang fungsi manajemen yang dimulai dari planning hingga controlling. Ada persiapan-persiapan sebelum shalat berjemaah, seperti: berniat, bersuci, memahami waktu-waktu shalat dengan benar, mempersiapkan segala sarana dan prasarana pendukung shalat berjemaah, mengetahui tata cara shalat berjemaah, menentukan imam dan muadzin serta menyeru kaum muslimin untuk meramaikan masjid, mensyiarkan alasan dan tujuan shalat berjemaah. Selain itu ada juga tahapan pengawasan dan evaluasi shalat berjamaah, seperti feedback terhadap pelaksanaan shalat (sesuaikan dengan syarat, rukun dan ruhnya).

Jika Imam khilaf saat proses shalat berlangsung, maka dapat dilakukan pengawasan concurrent, yaitu makmum dapat mengingatkan sang imam saat shalat sedang berlangsung dengan cara-cara tertentu. Singkatnya, semua muslim menginginkan agar shalat mereka sesuai dengan tata cara yang telah Rasulullah praktikkan. Rasulullah sebagai tolak ukur dari praktik terbaik. Ini yang disebut juga dengan benchmarking (membuat tolak ukur), menjadikan praktik shalat Rasulullah sebagai yang terbaik dan unggul daripada praktik shalat lainnya, dalam rangka meraih ridha Allah Swt. Nilai tambah yang akan diraih dari syariat shalat adalah implementasi akhlak mulia di dalam kehidupan.

Betapa indahnya saat akhlak mulia hadir dalam manajemen. Betapa kokohnya manajemen bersama akhlak terpuji. Syaratnya ketika seorang muslim mampu menjadikan kesejukan hati dan matanya di dalam shalat. Sebaliknya diduga kuat, alfanya akhlak dan etika di tengah masyarakat, merebaknya tindakan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) di mana-mana disebabkan oleh melemahnya pengelolaan (manajemen) shalat. Garis liniernya, disaat shalat menghasilkan akhlak namun menjadi anomali karena ramai yang sudah shalat dan masih belum berdampak positif kepada keutuhan akhlak. Kualitas shalat menjadi persoalan besarnya. Apabila praktik shalat kita saja masih belum berkualits. Bagaimana dengan kewajiban ibadah lainnya? Biasanya hal-hal paradok itu muncul akibat dari perilaku manusia yang membangun jarak sangat jauh dari Tuhannya, baik ia sadari ataupun tidak.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib bersungguh-sungguh mengamalkan semua industri kebaikan. Senantiasa membangkitkan spirit bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini. Kuat dari seluruh fungsi manajemen, mulai dari perencanaan hingga pengawasannya. Menghidupkan pesan-pesan Rasulullah Saw untuk berlaku ihsân, itqân, bersungguh-sungguh, ikhlas, profesional, kreatif, inovatif, bertanggungjawab dan berbudaya baik. Nabi Nuh as sukses mendisain dan membuat kapal besar (setelah Allah Swt perintahkan) yang mampu menampung para pengikutnya saat banjir besar melanda, dan mereka selamat dari bencana banjir itu. Tidakkah membuat kapal besar yang baik memerlukan manajemen? Nabi Yusuf as sukses menjabat bendaharawan negara Mesir saat itu, setelah sebelumnya ia ditelantarkan oleh saudara-saudaranya di dalam sebuah sumur, lalu ia juga mendekam di penjara kerajaan sampai akhirnya menduduki jabatan sebagai pemimpin keuangan di negeri Mesir. Bukankah kepemimpinan ini memerlukan manajemen yang profesional? Rasulullah Saw sukses disemua praktik manajemen yang dikenal saat ini; manajemen sumber daya manusia, manajemen operasional, manajemen keuangan, manajemen strategik, manajemen pemasaran, manajemen mutu, evaluasi kinerja. Kisah-kisah super tersebut tentu sarat dengan komitmen mencapai sebab-sebab yang telah digariskan Allah Swt.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *