Muamalat Center Consulting

Konsep Untung Perspektif Bisnis Syariah

Literatur ekonomi syariah mengakui eksistensi keuntungan (al-ribhu) dalam bisnis. Keuntungan bisnis dalam pandangan para ulama disimpulkan sebagai hasil dari suatu usaha (al-’amal) dan modal (ra’s al-mal). Peranan usaha dan kerja menjadi sangat penting untuk meraih keuntungan.

Ekonomi Islam memandang keuntungan dalam bisnis tidak hanya berupa profit (laba) yang bersifat materi saja, namun ada juga pandangan tentang keuntungan non materi yaitu berupa benefit, yang diterjemahkan dengan keberkahan. Sehingga dirumuskan bahwa laba ditambah keberkahan akan menghasilkan maslahat, yakni kesuksesan di dunia dan akhirat.

Pengertian Laba

Laba adalah selisih antara pendapatan dan beban (cost), yang disebabkan oleh aktivitas perniagaan. Keberkahan pada laba menjadi nilai tambah (value added) dan pembeda orientasi bisnis syariah dengan konvensional. Sehingga mampu memotivasi para produsen untuk mengoperasikan usaha dagangnya secara halal dalam rangka mengharapkan output yang halal lagi baik.

Al-Nawawy dalam Kitab Raudhat Al-Thalibin  menyatakan bahwa transaksi bisnis dilaksanakan agar harta tersebut dapat berkembang melalui keuntungan yang diperoleh. Dalam konteks aktivitas investasi, laba masih merupakan motivasi utama, bahkan ianya merupakan ukuran prestasi (kinerja) suatu perniagaan, apakah perniagaan eksis atau mengalami kepunahan?

Misalnya dalam sistem bagi hasil pada praktik mudharabah dan musyarakah (investasi), pembicaraan tentang laba dan rugi telah dibangun sejak awal transaksi. Pembagian proporsi keuntungan antara pemilik modal dan pengelola harus disepakati pada saat majlis akad. Ini bermaksud untuk memelihara harmonisasi pihak-pihak yang berakad. Dalam mudharabah, keuntungan terlihat pada kelebihan harta setelah dikurangi modal dan beban-beban biaya.

Kajian tentang laba dapat kita temukan pula dalam transaksi murabahah. Skim murabahah adalah menjual produk dengan harga asal ditambah margin keuntungan yang telah disepakati. Harga modal dan laba murabahah harus nyata dan transparan. Sebagaimana Ibn Qudamah dalam al-Mughni menyebutkan bahwa murabahah adalah menjual dengan harga modal disertai dengan margin keuntungan yang jelas dan transparan, karena ia tergolong dalam jual-beli Amanah (bai’ al-Amanah).

Murabahah bahkan mendominasi transaksi penyaluran dana bank. Hingga Juni 2015, OJK mencatat, pembiayaan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah untuk akad mudharabah sebesar Rp14,9 triliun, musyarakah Rp54 triliun, sementara murabahah Rp117,8 triliun. Kemudian lebih dari 70 persen laba pembiayaan perbankan syariah diperoleh dari akad murabahah. Sedangkan pembiayaan mudharabah dan musyarakah masih dirasakan kecil, faktor utamanya adalah persoalan kepercayaan (trust) debitur yang masih lemah bagi industri perbankan.

Dari berbagai definisi untung/laba menurut para ulama tafsir dan fikih, disimpulkan bahwa laba adalah kelebihan dari modal dan atau kelebihan dari modal serta beban-beban biaya sebagai akibat dari aktivitas bisnis. Dengan demikian, dapat difahami bahwa laba dihasilkan dari dua unsur utama, yaitu usaha (al-a’mal) dan modal (ra’sul mal). Seandainya laba diperoleh bukan dari hasil dua unsur tersebut, maka ia bukanlah dinamakan keuntungan. Sebagaimana praktik membungakan uang (ribawi), ekonomi Islam tidak menganggap hasil dari praktik membungakan uang sebagai keuntungan. Alquran Surat Ar-rum ayat 39 telah menegaskan bahwa praktik ribawi tidak akan pernah disebut sebagai pertumbuhan dalam ekonomi Islam.

Keuntungan dan Etika

Pencapaian keuntungan (laba) dalam perspektif Islam harus beretika. Etika memperoleh keuntungan tersebut mengacu kepada sumber ajaran ekonomi syariah, yaitu Alquran, Hadis dan ijmak para ulama. Seorang muslim dilarang meraih keuntungan melalui ukuran akal, kelezatan nafsu (hedone), garis keturunan dan adat istiadat yang bertentangan dengan prinsip Islam.

Keuntungan yang beretika akan melahirkan keberkahan. Sehingga ditemukan dalam teori perilaku produsen muslim bahwa tujuan produsen muslim memproduksi barang dan jasa adalah untuk mencapai mashlahah maksimum. Formulasinya adalah keuntungan ditambah keberkahan. Maka, motivasi produsen muslim bukan hanya sekedar mengharapkan keuntungan (fisik) semata, namun harus memperhatikan aspek keberkahan (non fisik).

Ada empat asas penting yang selayaknya diperhatikan para pelaku bisnis muslim dalam usaha meraih laba: Pertama, perolehan keuntungan bebas dari praktik riba. Kedua, keuntungan bukanlah dihasilkan melalui praktik penipuan dan tipudaya muslihat (al-ghabn). Ketiga, keuntungan bebas dari unsur-unsur kebatilan (al-gharar). Keempat, perolehan keuntungan bebas dari praktik monopoli barang (al-ihtikar).

Di saat etika keuntungan di atas tidak diimplementasikan dengan optimal, maka kondisi ini rawan terhadap terpaan krisis. Jika ini terjadi, pengaruhnya tidak hanya mengusik individu yang bersangkutan, bahkan dapat mengganggu stabilitas ekonomi suatu bangsa.

Para pakar ekonomi Islam menyebut bahwa akar krisis kuangan global berpuncak dari kegagalan ekonom Kapitalis membangun etika (ethics) dan moral dalam berekonomi, terutamanya masih berlakunya praktik bunga (ribawi). Etika berekonomi menjadi pilar utama dan prinsip bermuamalah. Ekonomi yang melalaikan sisi moral juga menjadi penyebab munculnya krisis moneter di negara Indonesia pada tahun 1998. Tepatlah apa yang dikemukakan oleh Adam Smith, pelopor sistem ekonomi Kapitalis, bahwa ekonomi yang berperadaban tinggi senantiasa menjunjung moral, dan contoh terbaik masyarakat yang berperadaban tinggi yang mapan secara ekonomi adalah Nabi Muhammad.

Ekonomi Islam yang beretika ternyata mendapat sambutan baik dari pihak Vatikan. Pernyataan yang mengejutkan ini menghendaki agar dunia perbankan global melongok pada peraturan keuangan Islam. Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan pihak bank dengan para nasabahnya.

Etika berikutnya bagi pelaku bisnis yang telah meraih laba adalah bijak dalam menyikapi kelebihan rezeki yang ada, melalui pendistribusian harta dalam bentuk Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF). Untuk disalurkan kepada golongan yang berhak, melalui program-program penyaluran yang bersifat konsumtif dan produktif. ZISWAF merupakan instrumen penyaluran harta yang spektakuler. Seorang muslim dituntut untuk peka terhadap kondisi sosial sekitarnya, peduli terhadap realitas kemiskinan saudaranya. Meyakini bahwa pada kelebihan harta mereka terdapat hak dhu’afa. Allah dan Rasul-Nya menerangkan bahwa tidak akan pernah berkurang harta dari sedekah yang dikeluarkan, bahkan ia akan menumbuhkembangkan rezeki.

Implementasi zakat perusahaan pada perbankan syariah juga telah direalisasikan. Dalam laporan akuntansi perbankan syariah, telah disebutkan uraian mengenai pengeluaran zakat perusahaan. Perusahaan ibarat individu yang beroperasi secara independen, seperti pedagang yang menjual produk kepada konsumen. Laba yang diraih akan dikenakan zakat. Realisasi ini seyogyanya diikuti juga oleh setiap perusahaan muslim.

Harapan

Maraknya transaksi bisnis bodong dewasa ini, di mana OJK merilis lebih dari 200 perusahaan ilegal, menunjukkan hilangnya nilai dalam meraih keuntungan bisnis. Pada saat yang sama, mendorong para pebisnis muslim untuk tampil memberikan alternatif produk dan sistem bisnis berbasis syariah kepada masyarakat. Dengan orientasi keberkahan dan beretika dalam memperoleh keuntungan menjadikan transaksi-transaksi bisnis syariah eksis di tengah badai krisis. Mengimplementasikan konsep keuntungan tersebut juga berarti membangun kekokohan ekonomi bangsa, yang berimplikasi kepada perbaikan kesejahteraan, politik, keamanan dan pendidikan.***

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *