Muamalat Center Consulting

Pentingnya Pendidikan Dalam Rumah Tangga (Generasi Emas Indonesia 2045)

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Didik Suhardi pernah menyampaikan dalam buku yang berjudul “Peta jalan Generasi Emas Indonesia 2045”, bahwa Indonesia pada ulang tahun yang ke 100 (satu abad) nanti dicita-citakan menjadi Negara yang berdaulat, maju, adil dan makmur. Maka, dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas 2045 tersebut, hal yang sangat diperlukan adalah pendidikan dalam perspektif masa depan, dengan mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas, maju, mandiri, dan modern, serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Lebih lanjut Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Merauke, Papua, bertepatan tanggal 30 Desember 2015, menuliskan 7 butir impiannya untuk Indonesia 2045. Impian itu langsung ditulis dalam secarik kertas, sebagai berikut:

  1. Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia.
  2. masayaratkat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika.
  3. Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia.
  4. Masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari prilaku korupsi.
  5. Terbangunnya infrastruktur pemerintah yang merata di seluruh Indonesia.
  6. Indonesia menjadi Negara yang mandiri dan Negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik.
  7. Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Secara sepintas impian-impian ini terasa begitu besar dan seakan jauh panggang dari api, tapi untuk Negara yang besar dan sekaya Indonesia, impian ini tidaklah mustahil dapat terwujud. Apalagi Indonesia mempunyai kebiasaan yang sangat baik, dengan sistem bergotong royong dan kerja sama. Teringat apa yang disampaikan oleh seorang motivator, bahwa “Untuk meraih sebuah impian hal yang utama dilakukan adalah membuat target-target apa yang ingin dicapai, sebab meskipun semangat membara tanpa ada tujuan samalah artinya berjalan tanpa arah, dan yang kedua adalah memulai, memulai untuk mengejar target yang akan dicapai”, sayapun sepakat dengan motivator tersebut”. Kedua hal ini menurut saya sudah dipenuhi oleh Indonesia, pertama sudah ada target yang ingin dicapai dan kedua sudah memulai (starting).

Untuk mewujudkan cita-cita bangkitnya  generasi emas 2045, arah kebijakan pendidikan diproritaskan pada pendidikan usia dini yang digencarkan sampai ke desa-desa, dan pendidikan dasar menengah yang berkualitas dan merata. Kebijakan ini menurut penulis sudah sangat tepat, sebab satu generasi akan digantikan oleh generasi berikutnya. Generasi yang akan datang inilah nanti yang akan mengisi ruang-ruang guru, ruang perpolitikan, ruang kepemimpian dan seterusnya. Maka tepatlah apa yang disampikan oleh pepatah arab “pemuda hari ini adalah merupakan pemimpin masa depan”.

Siapa sangka bahwa masa muda adalah masa yang sangat penting dan masa yang paling berharga. Generasi muda merupakan rahasia kekuatan umat, tiangnya kebangkitan, kebanggaan dan kemuliaan. Di atas pundak merekalah masa depan umat terpikul, karena para pemuda memiliki banyak keistimewaan tersendiri, baik dari segi keberanian, kecerdasan, semangat, maupun dari kekuatan jasmaninya, ini merupakan penghargaan terbesar untukmu yang masih mudah. Maka, engkau yang ber umur 20 tahun saat ini (2021), di tahun 2045 nanti engkau sudah ber umur 42. Pertanyaannya apakah kontribusi untuk kebaikan Indonesai yang kita berikan, atau malah sebaliknya. Ini adalah tugas kita yang merasa dan masih muda saat ini, mulainya (starting) menuju generasi emas 2045 secara tidak langsung kita ikut di dalamnya. Perlu kita renungi sebuah motivation Quote dari Seorang pengusaha “wahai para pemuda, song-song masa depanmu dengan sebaik-baiknya, maksimalkan waktu muda untuk berpeluh lelah meraih sukses dunia akhirat. Jangan sampai lelahmu terkumpul di hari tua sedang mudamu habis bersanda gurau tak berguna, ingat masa sehat akan berjumpa sakit, ingat masa mudamu sementara dan akan berjumpa tua”. Bangunlah, berdirilah dan mulailah menatap masa dimana semua orang ketawa bahagia, sedangkan engkau duduk termenung tidak punya apa-apa.

Dilain sisi yang tidak kalah penting adalah, bahwa kemajuan dan karakteristik suatu Negara dan bangsa yang maju dan bernilai positif disetiap line kehidupan Negara harus di topang dengan kualitas karakter dan moral rakyatnya (masyarakatnya), sedangkan masyarakat itu bagian dari anggota keluarga.

Apabila sebuah keluarga mempunyai nilai moral dan karakter yang bagus. sebuah Negara walau sedang berkembang, maka Negara itu akan menjadi Negara yang maju dan berperadaban tinggi dengan kualitas unggul (emas).

Sejarah Andalusia menjadi pelajaran penting bagi setiap bangsa yang ingin “Sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia” (salah satu dari 7 point yang disampaikan pak Jokowi, menuju generasi emas 2045). Andalusia yang saat itu terjajah akhirnya berubah menjadi Negara adidaya yang maju pesat dan menjadi referensi pertama kemodernisasian ilmu pengetahuan dan teknologi hingga saat ini. Tidak sampai disitu, Anadalusia adalah kisah tentang kegemilangan kaum muslimin yang berhasil menaklukkan wilayah benua eropa yang kemudian mengisinya dengan tinta emas kejayaan dan keunggulan peradaban. (As-Sirjani, 2013), hal ini bisa dilihat karena diabad ke 7 sampai abad 13 di saat pendidikan dan nilai Islam diterapkan di dalam keluarga dan masyarakat, serta nilai toleransi yang diajarkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.

Tepatlah, bahwa Islam adalah agama yang memberikan perhatian besar terhadap pentingnya institusi keluarga. Sebab, Keluarga merupakan jiwa dan tulang punggung sebuah suatu Negara, kesejahteraan yang dirasakan oleh merupakan gambaran dari keadaan keluarga yang hidup di tengan-tengah masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, jika kita ingin menciptakan Negara yang sejahtera, damai dan sentosa (baldatun thayyibatun) landasan yang harus kita bangun (starting) adalah masyarakat yang baik (thayyibah) adapun pilar yang harus ditegakkan, Dengan figure seorang ayah yang bijaksana, ibu penyantun, lembut dan bisa mendidik serta membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang akan membentuk karakter anak menjadi baik dan kuat memlalui didikan seorang ibu, inilah arti dari البيت مدرسة الأولى (Ibulah guru pertama dalam sebuah keluarga). Anak-anak dari didikan inilah yang akan mengsisi ruang-ruang kepemimpinan, ruang-ruang penegak hukum, ruang-ruang perpolitikan di Indonesia dan seterusnya. Tentunya ini penghargaan dan keistimewaan yang besar terhadap setiap orang tua, bahwa untuk mewujudkan generasi emas Indonesia 2045 di dalamnya ada kontribusi besar setiap orang tua. Sebab masa depan seorang anak sangat ditentukan dimana, dan bersama siapa ia berada.

Ada tanggung jawab besar yang sudah hampir ter abaikan oleh banyak orang tua, tidak sedikit orang tua yang tidak memperdulikan pendidikan agama di dalam rumah tangga,

mereka berangggapan dan bahkan mempercayai sepenuhnya apa yang didapat anak di sekolah. Rasulullah menjelaskan sekaligus mengingatkan akan pentingnya pendidikan keluarga (orang tua).

Rasulullah Saw bersabda, “Anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tualah yang dapat menjdikannya Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”. (HR. Muslim).

Di dalam keluarga orang tua adalah sebagi tokoh utama/idola bagi setiap anak-anaknya, dimana setiap gerak gerik, tindakan maupun ucapan menjadi perhatian utama bagi anaknya. Maka, tidak heran ada anak yang menjadi pemarah, karena kedua orang tuanya sering berkelahi di depan matanya. Dan tidak heran juga jika seorang anak menjadi penyayang, karena kedua orang tuanya menampakkan kasih sayang di depan matanya. Sesuailah apa yang disampaikan oleh Nabi, bahwa orang tualah pemeran penting terhadap diri seorang anak, apakah anak akan menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi (dalam hal ini bisa jadi sifatnya meyerupai sifat mereka).

Tidak bisa dipungkiri bahwa ibu sangat berperan penting terhadap pendidikan anak, sebab ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Apabila engkau telah persiapkan mereka dengan baik, maka sesungguhnya engkau telah mempersipkan sebuah generasi yang baik dan kuat. Saya teringat nasehatnya Ustadzah Elly Damawiati, penulis Sekolah Peradaban Itu Bernama IBu, beliua mengatakan “Ibu sebagai pencetak sejarah tentunya tidak hanya terbatas pada peran yang melahirkan anak-anak biologis dari perutnya namun yang tidak kalah pentingnya adalah anak-anak ideologis yang ada sekitarnya, bahkan yang menjadi amanahnya untuk dididik, dipengaruhi, dan dilukis kelak menjadi penerus peradaban ini”.

Namun, tanggunga jawab ini tidaklah sepenuhnya ditanggung oleh seorang ibu. Al qur an secara tegas mengisyartakan bahwa hal yang paling utama dalam sebuah rumah tangga adalah kerja sama, saling menjalin komunikasi dan saling membantu dalam mewujudkan cita-cita keluarga. Kata ini mungkin secara sepintas terlihat sederhana, namun banyak orang tua mungkin belum mengetahuinya. Contoh sederhana, dalam mewujudkan tujuan, visi, dan misi dalam membentuk karakter anak. Jauh sebelum mewujudkan tujuan tersebut seorang ayah dan ibu juga wajib duduk bersanding untuk mengkomunikasikan tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan anak, dan kebutuhan apa yang harus dipersiapkan. Anak adalah harta berharga di dalam pernikahan, bahkan anak merupakan investasi terbesar orang tua di dunia dan akhirat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *